Hujan Terakhir di Bulan Juli
Hujan Terakhir di Bulan Juli
Langit sore itu tampak mendung, seolah ikut merasakan suasana hati kami. Di pelataran sekolah, kami berdiri berderet, menunggu giliran untuk berfoto bersama. Hari ini adalah hari terakhir kami sebagai siswa kelas 9. Setelah tiga tahun bersama, tawa dan tangis kami akhirnya sampai di ujung perjalanan.
Aku, Nara, berdiri di tengah-tengah kerumunan teman sekelasku. Di sebelahku, Raka—teman sebangku yang sejak kelas 7 selalu ada di sisiku. Wajahnya terlihat biasa saja, tapi aku tahu betul dia sedang berusaha menyembunyikan perasaan yang sama denganku: sedih.
"Hujan bakal turun," gumam Raka sambil menatap langit.
"Pas banget sama suasana hati, ya," jawabku sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba, tetes-tetes air mulai jatuh dari langit, satu per satu. Kami semua bersorak kecil, lalu berlarian ke arah aula sekolah. Tapi aku tetap diam di tempat, memandangi langit yang abu-abu.
“Hujan terakhir di bulan Juli,” bisikku.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Aku masih ingat hari pertama masuk SMP. Aku yang pendiam dan pemalu duduk di pojok kelas sendirian, hingga seorang anak laki-laki dengan rambut berantakan duduk di sebelahku dan berkata, “Namaku Raka. Kalau kamu?”
Sejak hari itu, kami jadi tak terpisahkan. Kami belajar bareng, kena hukuman bareng, bahkan pernah menang lomba drama antar kelas bersama. Raka selalu bilang, “Kita ini tim yang kompak, Nar. Sampai lulus pun harus bareng-bareng.”
Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Raka diterima di SMA favorit di kota lain, sedangkan aku memilih tetap di sini, dekat dengan keluarga.
“Kamu yakin gak mau daftar ke tempatku?” tanyanya waktu itu, saat kami duduk di bangku taman belakang sekolah.
Aku mengangguk pelan. “Aku yakin. Tapi itu bukan berarti aku gak sedih harus pisah.”
Ia diam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau nanti kamu kangen, ingat aja semua kenangan kita. Biar gak terasa jauh.”
Di aula, semua siswa mulai menuliskan pesan dan tanda tangan di baju seragam teman-temannya. Aku berdiri di sudut, memandangi bajuku yang sudah penuh coretan. Raka datang menghampiriku, membawa spidol hitam di tangannya.
“Boleh nulis sesuatu?” tanyanya.
Aku mengangguk. Ia menunduk dan menulis sesuatu di bagian belakang bajuku. Setelah selesai, ia menyerahkan spidol itu padaku.
“Gantian,” katanya.
Aku menulis, “Jangan lupa janji kita. Kompak, walau jauh.”
Ketika aku selesai menulis, ia menunjuk ke arah jendela. Hujan masih turun, tapi kini mulai reda.
“Itu hujan terakhir kita di sekolah ini,” ucapnya. “Tapi bukan akhir dari segalanya, kan?”
Aku menggeleng pelan. “Bukan. Ini cuma awal dari cerita baru.”
Kami tersenyum, lalu menatap langit yang perlahan cerah.
Hujan terakhir di bulan Juli, menjadi saksi dari perpisahan kami. Tapi juga menjadi pengingat bahwa setiap akhir, menyimpan kenangan indah yang akan selalu hidup di hati.
Comments
Post a Comment